Belajar dari Para Jenius
Bagaimana cara orang jenius berpikir dan berusaha ? Ternyata ada beberapa hal positif yang dapat kita petik dan terapkan dalam pola belajar sehari-hari.

Pertama, lihatlah persoalan dari berbagai cara.
Jangan pernah puas dengan cara yang telah biasa. Terus berusaha untuk mencari cara baru. Apa yang bakal kita dapat kadang merupakan cara yang lebih praktis dan efisien.

Kedua, pergunakan visualisasi dan metafora.
Kemampuan untuk memvisualisasikan suatu persoalan adalah salah satu ukuran kejeniusan seseorang. Kenapa? Karena dengan demikian ia mampu menerjemahkan hal-hal yang sulit ke dalam bentuk yang lebih sederhana.

Ketiga, jangan pernah berhenti.
Orang gagal akan berhenti dan bertanya, “Mengapa saya gagal?” Sebaliknya, orang yang berpikiran jenius akan balik bertanya ke diri sendiri, “Apa yang telah saya lakukan?” Jadi tidak perlu buang waktu untuk meratapi kegagalan. Gunakan waktu seefisien mungkin untuk bangkit kembali dari kegagalan. Caranya? Tidak berhenti berusaha, melihat kembali, menganalisa dan mengevaluasi apa yang telah dilakukan.

Pemenang

Bila kamu berpikir kamu dikalahkan, kamu benar.
Bila kamu berpikir kamu tidak berani, kamu benar.
Bila kamu ingin menang tapi berpikir tidak mungkin bisa, hampir dipastikan kamu tidak akan bisa.
Bila berpikir kamu akan kalah, kamu kalah.

Karena kita temukan di dunia ini,
Sukses dimulai dari tekad seseorang.
Semuanya ada dalam pikiran.

Bila kamu berpikir kamu unggul di atas yang lain, kamu benar.
Kamu harus berpikir tinggi untuk bangkit
Kamu harus yakin terhadap dirimu sendiri, sebelum Kamu bisa memenangkan hadiahnya.
Pertarungan hidup tidak selalu dimenangkan oleh yang kuat dan yang cepat.
Cepat atau lambat, yang menang adalah Orang yang berpikir bahwa ia BISA

Pengarang: C. W. Longenecker; Sumber: Tidak Diketahui

Mind Set: Inti Pembelajaran Diri
Oleh: Sigit B. Darmawan

“…whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is admirable—if anything is excellent or praiseworthy— think about such things” (Apostle Paulus to Philippians)

Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang akan kita lakukan. Pola pikir kita ini akan mempengaruhi karakter, kebiasan (habits), perilaku dan sikap kita. Pola pikir ini sangat dipengaruhi oleh sistim kepercayaan atau sistim nilai yang kita miliki, nilai-nilai keluarga, pendidikan, dan lingkungan. Karena itu kita harus memastikan agar pola pikir kita hanya dibentuk dan dipengaruhi dengan nilai-nilai yang baik dan benar.
Sebuah transformasi (perubahan) pola pikir harus terjadi, jika kita ingin mengembangkan hidup yang berkualitas. Perubahan ini dimaksudkan supaya semua potensi, bakat, dan talenta kita bisa dikembangkan secara optimal, dan menghasilkan sebuah keluaran (output) dengan kualitas terbaik.

Mind Set (Pola Pikir) adalah inti dari Self Learning atau pembelajaran diri. Inilah yang menentukan bagaimana kita memandang sebuah potensi, kecerdasan, tantangan dan peluang sebagai sebuah proses yang harus diupayakan dengan ketekunan, kerja keras, komitmen untuk tercapainya kebehasilan visi dan tujuan hidup kita.

Proses pembelajaran diri selalu dimulai dari perumusan visi dan misi hidup. Inilah yang akan memandu arah dan jalan keberhasilan kita. Inilah yang akan mengarahkan kemana tujuan kita dan menjadi seperti apakah kita nanti. Namun itu tidak cukup. Perlu sebuah mind set yang berkembang (growth mindset) yang akan menjadi katalisator dalam merespon setiap peluang, tantangan, dan perubahan dan mengubahnya menjadi sebuah proses yang dijalankan dengan ketelatenan, usaha, dan komitmen yang kontinyu dan berkelanjutan, untuk menjadi berhasil, berkembang, dan berkualitas.

Seseorang dengan mindset berkembang akan selalu memandang bahwa bakat, kecerdasan, dan kualitas adalah sesuatu yang bukan given (sudah ditetapkan), tetapi bisa diperoleh melalui upaya-upaya tertentu. Karena itu hidup dalam pemanfaatan peluang dan tantangan untuk berkembang adalah jiwa dari orang dengan mindset berkembang ini. Keberhasilan dimaknai sebagai “berusaha lebih baik”, dan kegagalan dimaknai sebagai “kurangnya ketrampilan dan pengalaman”. Karena itu
kegagalan perlu diresponi dengan sebuah upaya untuk bekerja lebih keras, lebih tekun, lebih bermotivasi.

Sebuah survey Gallup tentang “Karakter Orang-orang Sukses di Amerika” menjelaskan bahwa hampir semua orang yang berhasil, berkualitas dan berkembang kehidupannya, adalah mereka-mereka yang memiliki mindset berkembang, seperti: kerja keras, tujuan yang jelas, hasrat belajar yang tinggi, tidak pernah berhenti belajar pada satu bidang tetapi selalu mencoba bidang lain, menghargai kemampuan pengembangan logika, terus berusaha untuk berubah dan berkembang dan
sebagainya. Hidup yang berkualitas dan berkembang bisa dicapai karena mindset yang benar sudah mendarahdaging dan menjelma dalam karakter, kebiasaan, sikap dan perilaku orang-orang sukses.

Tujuh Hukum Seorang Pembelajar (7 Laws of Learner)
Seorang pembelajar yang baik selalu mengikuti hukum-hukum yang menjadikannya pribadi yang pantang menyerah, selalu terbuka kepada perubahan, dan bersedia untuk berubah. Inilah Tujuh Hukum Seorang Pembelajar:
1. Kesuksesan itu menyangkut pembelajaran, pengembangan diri, dan proses menjadi lebih cerdas.
Tidak pernah ada kesuksesan tanpa pembelajaran. Tidak pernah ada pembelajaran jika tidak ada tujuan yang ingin dicapai. Belajar untuk menerima perubahan, tantangan, dan peluang. Belajar untuk selalu ingin tahu untuk peningkatan pengetahuan. Belajar untuk bersedia berubah dan berkembang.

2. Kecerdasan berkaitan dengan proses mempelajari sesuatu seturut dengan waktu; menghadapi tantangan dan menciptakan kemajuan.
Kecerdasan selalu bisa ditingkatkan melalui upaya yang tekun dan sungguh-sungguh. Itu bukan sesuatu yang ditetapkan. Walaupun beberapa orang memang dianugerahi dengan kecerdasan yang luar biasa, namun kecerdasan sejati adalah kecerdasan yang diperoleh dengan proses belajar, bersedia menghadapi tantangan, dan berhasil menciptakan kemajuan dalam setiap tahapan prosesnya.

3. Kegagalan sama sekali tidak menentukan nasib. Itu adalah persoalan yang harus dihadapi. dipelajari, dipecahkan, dan diambil hikmahnya.
Kegagalan bukanlah segala-galanya. Itu tidak menentukan masa depan kita.
Dalam diri seseorang dengan mindset berkembang, kegagalan adalah sebuah persoalan yang perlu ditangani dan dipecahkan dengan usaha dan upaya yang lebih memadai dibanding sebelumnya. Kegagalan menjadi motivasi bagi orang dengan mindset berkembang untuk bekerja lebih baik, dengan fokus memperbaiki kelemahan dan kekurangan.

4. Upaya adalah sesuatu untuk menyalakan kemampuan dan mengubahnya menjadi pencapaian. Kemampuan dapat ditingkatkan.
Upaya itu diibaratkan sebagai pemantik api yang akan menggelorakan kapabilitas, kompetensi dan kemampuan orang apabila dilakukan dengan tekad dan komitmen yang kuat. Karena itu haruslah dipastikan supaya motivasi, tekad, dan komitmen tidak pernah padam dalam proses mentransformasi kemampuan menjadi pencapaian.

5. Keingintahuan (belajar) terus menerus tanpa akhir, serta pencarian akan tantangan.
Jiwa seorang pembelajar adalah hasrat yang tidak pernah berhenti untuk belajar dalam segala hal. Tidak ada waktu sedikitpun untuk berhenti dari hasrat itu. Mengembangkan rasa ingin tahu dengan mencari tantangan baru.
Tidak pernah puas dengan kondisi sekarang, tetapi selalu mencari jalan untuk perbaikan dan pengembangan. Ketika hasrat itu padam, mati jugalah jiwa sang pembelajar

6. Bertanggung jawab terhadap proses-proses yang membawanya kepada keberhasilan dan mempertahankannya.
Setiap proses yang membentuk karakter dan kebiasan sukses harus dipertanggungjawabk an dengan mempertahankan proses tersebut, ketika tantangan menjadi lebih berat dan sulit. Walaupun mungkin proses tersebut harus diupayakan lebih keras, lebih tekun, lebih bersemangat dibandingkan sebelumnya. Tetapi inilah arti pertumbuhan. Tidak akan pernah menghadapi situasi dan tantangan yang sama. Namun proaktif mencari situasi dan tantangan yang jauh lebih berat dan sulit dibandingkan sebelumnya. Seorang pembelajar haruslah memastikan untuk terus mempertahankan, bahkan meningkatkan kualitas karakter yang
membawanya kepada keberhasilan sebelumnya. Inilah mentalitas sang juara

7. Bersedia menerima umpan balik dan kritik untuk peningkatan kualitas dan kemajuan
Umpan balik bisa menjadi obat maupun racun. Tergantung sikap dan mindset orang. Seorang pembelajar yang sadar akan proses, selalu mencari umpan balik untuk perbaikan yang dibutuhkan. Tidak pernah alergi dengan kritik yang bertubi-tubi, betapapun tajamnya kritik tersebut. Bagi seorang pembelajar banyaknya kritik tidak menentukan masa depannya, walaupun mungkin kritikannya memang benar. Jika kegagalan yang dihadapinya dan banyak kritik yang diperolehnya, seorang pembelajar dengan mindset berkembang akan terlecut hatinya untuk meningkatkan upayanya karena pola pikirnya yang menempatkan kegagalan sebagai kurangnya ketrampilan dan pengalaman. Kritik adalah obat yang menyehatkannya.

Memulai Menjadi Seorang Pembelajar
Jika ingin menimba keberhasilan dan menjadi pribadi yang berkualitas, tidak ada jalan lain bahwa kita harus mengalami transformasi mindset kita. Tidak mudah mengubah mind set lama dengan mind set baru, karena perubahannya yang bersifat radikal. Mengubah mindset berarti membongkar kebiasaan dan sikap kita yang lama dan membentuk sebuah karakter baru seorang pembelajar. Visi dan tujuan hidup akan menjadi katalisator perubahan tersebut.
Perubahan mindset ini harus diikuti dengan sebuah identifikasi: peluang dan tantangan apa saja yang kita hadapi dan bisa kita gunakan untuk berkembang. Peluang itu bisa untuk diri sendiri, profesi, maupun untuk orang-orang di sekitar kita Dan ketika identifikasi itu sudah dilakukan, kita perlu menyusunnya dalam sebuah rencana aksi yang jelas dan terukur. Tentu dibutuhkan komitmen dan tekad yang kuat supaya rencana itu berjalan dengan baik. Jika kita menemui rintangan atau kemunduran, maka kita perlu menyusun ulang rencana berdasarkan umpan balik dan kritik yang kita terima.

Ketika keberhasilan sudah mulai bisa dicapai, kita perlu memikirkan bagaimana cara mempertahankan keberhasilan tersebut, bahkan melanjutkan dan meningkatkannya. Tentu ini adalah sebuah proses berulang (circle process) dalam pembentukan karakter, kebiasan, dan perilaku kita menjadi pribadi yang utuh, berkualitas dan berkembang. Jadilah seorang pembelajar yang baik.

PERTAPA MUDA DAN KEPITING

Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, tampak seorang pertapa muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai. Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak beraturan.
Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi berasal. Ternyata, di sana tampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.
Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Karena itu, ia segera mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa muda. Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting.
Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya. Belum lama bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang sama dari arah tepi sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami kejadian yang sama. Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi membantunya.
Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus lagi. Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya makin membengkak karena jepitan capit kepiting.

Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang menghampiri dan menegur si pertapa muda, “Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan hatimu yang baik. Tetapi, mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?”
“Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda. Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka, saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa makhluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting,” jawab si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih sikap belas kasihnya dengan baik.
Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang terlihat kembali melawan arus sungai. Segera, si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya. “Lihat Anak Muda. Melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong makhluk lain, bukankah tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri. Ranting pun bisa kita manfaatkan, betul kan?”
Seketika itu, si pemuda tersadar. “Terima kasih, Paman. Hari ini saya belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang Paman ajarkan.”

Pembaca yang budiman,
Mempunyai sifat belas kasih, mau memerhatikan dan menolong orang lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada anak kita, orangtua, sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun. Tetapi, kalau cara kita salah, sering kali perhatian atau bantuan yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi bumerang. Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya sekadar berniat membantu, malah harus menanggung beban dan kerugian yang tidak perlu.
Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya diberikan dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan begitu, bantuan itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif bagi yang dibantu, tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi kita yang membantu.

Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso

6 Tipe Karyawan: Tugas Apa yang Cocok untuk Mereka?

Dalam lingkaran bisnis, istilah “alignment” menjadi pembicaraan penting, di mana secara mendasar bisa dimaknai sebagai upaya menyatukan berbagai aset yang ada untuk mencapai tujuan bersama. Dalam praktiknya, di level karyawan “konsep” tersebut berarti menyelaraskan individu dengan pekerjaan tertentu yang sesuai. Langkah pertama yang harus diambil dalam proses ini adalah mengetahui tipe-tipe personalitas yang kerap ditemukan dalam lingkungan bisnis, dan jenis pekerjaan apa yang cocok untuk mereka.
Salah satu ahli yang menekuni bidang ini adalah Richard Warner, pendiri Warner Design Associates di San Diego, California dan menulis buku All Hands on Deck: Choosing the Right People for the Right Jobs. Dalam buku ini, Warner mengidentifikasi 6 tipe personalitas yang bisa membantu manajer atau profesional HR untuk menempatkan karyawan pada posisi yang sesuai. Berikut 6 tipe karyawan tersebut –dan temukan apa pekerjaan yang cocok untuk masing-masing:

–The Captain.
Layaknya dalam sebuah kapal, seorang kapten tahu betul bagian-bagian fundamental dari bisnis dan bagaimana mendelegasikan tugas-tugas untuk membuat bisnis berjalan, tanpa mengurusi semuanya sendirian. Warner membandingkan mereka dengan “orangtua yang ideal”, yang “tak pernah pilih kasih dan selalu punya waktu untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan memberi dorongan serta nasihat.” Para kapten, kata Warner, harus diberi kekuasaan penuh untuk memberdayakan sebuah regulasi dalam area mereka.

–The Explorer.
Sama halnya dalam dunia ilmu pengetahuan, para “eksplorer” tak henti-hentinya mencari ide-ide dan wilayah-wilayah baru.
Mereka adalah para pengambil risiko dan tak jarang menerabas aturan. batasan-batasan. Berilah mereka kebebasan, mereka akan membawa perusahaan ke dunia-dunia yang baru. “Jika Anda ingin mengembangkan ide-ide baru dan berinovasi, temukan karyawan bertipe eksplorer,” kata
Warner.

–The Navigator.
Sebagian dari Anda mungkin mengenal tipe ini sebagai administrator. “Mereka berpikir secara linier,” terang Warner. “Jadi jelaskan saja sejarah dan progres perusahaan Anda, dan apa yang harus dilakukannya kemudian.”

–First Mates.
Pada dasarnya sama dengan administrator, tapi kurang visibel. “Keberadaan mereka nyaris tak disadari, tapi mereka bagus, diplomatis dan dapat diandalkan,” jelas Warner. Saran dia, beri mereka banyak pujian, dan dorong untuk bersuara ketika mereka menemukan adanya persoalan dalam perusahaan.

–The Crew Member.
Jika empat tipe di atas semuanya memastikan pekerjaan terselesaikan dengan baik, maka harus ada satu orang lagi yang benar-benar melakukannya. Inilah pekerjaan bagi para kru. Karyawan tipe ini umumnya bisa diandalkan tapi ambisi mereka terbatas pada “bekerja dengan baik agar naik gaji”.

–The Stowaway.
Siapa mereka? “Orang-orang yang ingin mendapatkan tumpangan (gratis). Setelah berhasil melewati proses rekrutmen dan bergabung dengan perusahaan, mereka berprinsip “pokoknya kerja demi gajian akhir bulan”. Tapi, jangan salah, ingat Warner, mereka umumnya cerdas. “Jadi, cobalah pacu mereka. Jika hasilnya (tetap) buruk, keluarkan!” (portalhr)

Ada 6 kebiasaan orang-orang yang paling efektif:
1. Menjaga sikap. Orang-orang biasanya mendapatkan apa yang mereka harapkan dari hidup mereka. Harapkan yang terbaik, dan itulah yang akan Anda peroleh.
2. Terus berkembang. Orang-orang adalah apa mereka adanya, dan ke mana mereka menuju disebabkan oleh apa yang ada di dalam pikiran mereka.
3. Memiliki rencana dalam hidup. Sebagaimana yang dikatakan oleh William Feather, penulis dari The Business of Life,”Ada dua jenis keberhasilan: orang yang mempunyai rencana dan bertindak, dan orang yang bertindak sesuai rencana.”
4. Bersedia berubah. Beberapa orang memilih lebih baik berpegangan pada apa yang mereka benci daripada memeluk apa yang mungkin lebih baik karena mereka takut memperoleh sesuatu yang lebih buruk.
5. Berhubungan dengan orang lain. Orang-orang yang dapat bergaul dengan orang lain akan bergerak maju dalam hidupnya.
6. Membayar harga kesuksesan. Jalan menuju sukses selalu menanjak. Setiap orang yang ingin memperoleh harus mengorbankan banyak.
Penghargaan yang tertinggi untuk pekerjaan Anda bukanlah apa yang Anda dapat karenanya, tapi jadi siapakah Anda olehnya.

Secara umum, manusia dapat di kelompokan ke empat tipe kepribadian, yaitu:
1. Haare (kelinci): Pencetus ide, kreatif. Sifat-sifat yang dimiliki seorang leader yang visioner.
2. Owl (burung hantu): senang menyusun stategi dan mengorganisasikan tugas, typical manager yang baik.
3. Turtle (kura-kura): Juru analisa, selalu meyuarakan ketidak-setujuan terhadap ide, typical seorang oposisi.
4. Squirel (Tupai): Pekerja yang baik, tidak ambil perduli dengan keributan diatas, yang penting kerja jalan terus.

Team yang baik, harus mempunyai anggota dengan gabungan sifat-sifat tersebut diatas;
o Kelinci yang mencetuskan ide-ide baru,
o kura-kura yang mengoreksi dan memaksa kelinci memikir ulang idenya,
o burung hantu yang membuat rencana pelaksanaannya (action plan), serta
o tupai yang menjalankan rencana.

Bagaimana jika anggota team hanya terdiri dari kelinci atau burung hantu saja?
Akan terjadi diskusi menarik dan menghasilkan banyak ide kreatif! Tetapi, tidak ada orang yang bekerja. No Action Talk Only.

Bagaimana jika anggota team terdiri dari hanya tupai atau kura-kura?
Semua sibuk bekerja, namun tidak ada yang mau berpikir. Pekerjaan tidak terarah, kemajuan sulit dicapai.

Bagaimana dengan team Anda? Inginkah Anda mengetahui sifat team Anda?

(unknown)

4 Tipe Manusia Hadapi Tekanan Hidup
“Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh” (John Gray)

Pembaca, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan
cepat dan tak jarang mengagetkan.
Nah, tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari.

Pembaca, pada kesempatan ini, saya akan memaparkan empat tipe orang dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. Mari kita bahas satu demi satu tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup ini.
• Tipe pertama, tipe kayu rapuh.
Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada saat kesulitan terjadi.
Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.
Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan.
Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega. Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan kita sebagai pendamping mereka.
• Tipe kedua, tipe lempeng besi.
Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut. Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa. Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau mau berusaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam hidupnya.
• Tipe ketiga, tipe kapas.
Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi. Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi.
• Tipe keempat, tipe manusia bola pingpong.
Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya.
Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat finansial yang diharapkannya.
Hal ini pernah terjadi dengan seorang kepala regional sales yang performance- nya bagus sekali. Ia membangun network.
Tetapi, hasilnya ini membuat atasannya tidak suka. Akibatnya, justru dengan sengaja atasannya yang kurang suka kepadanya memindahkannya ke daerah yang lebih parah kondisinya. Tetapi, bukannya mengeluh seperti rekan sebelumnya di daerah tersebut. Malahan, ia berusaha membangun netwok, mengubah cara kerja, dan membereskan organisasi. Di tahun kedua di daerah tersebut, justru tempatnya berhasil masuk dalam daerah tiga top sales.
Contoh lain adalah novelis dunia Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Pada musim dingin, ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin dingin, lantai penuh kotoran seinci tebalnya, dan kerja paksa tiap hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun, Siberia yang beku tidak berhasil membungkam kreativitasnya. Dari sanalah ia melahirkan karya-karya tulis besar, seperti The Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia.
Hal ini juga dialami Ho Chi Minh. Orang Vietnam yang biasa dipanggil Paman Ho ini harus meringkuk dalam penjara. Tapi, penjara tidaklah membuat dirinya patah arang. Ia berjuang dengan puisi-puisi yang ia tulis. A Comrade Paper Blanket menjadi buah karya kondangnya.

Nah, pembaca, itu hanya contoh kecil. Yang penting sekarang adalah An a. Ketika Anda menghadapi kesulitan, seperti apakah diri Anda?
Bagaimana reaksi Anda? Tidak menjadi persoalan di mana Anda saat ini. Tetapi, yang penting bergeraklah dari level tipe kayu rapuh ke tipe selanjutnya. Hingga akhirnya, bangun mental Anda hingga ke level bola pingpong. Saat itulah, kesulitan dan tantangan tidak lagi menjadi suatu yang mencemaskan untuk Anda. Sekuat itukah mental Anda?

Saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika. Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika. Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup. Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok, bisa? Tentu kita sudah tahu jawabannya. Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana! Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf? Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya. Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut. Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya. Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepas semua “rasa tidak enak” terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum. Jadi, kenapa masih tetap kita genggam juga perasan tidak enak itu..?? (writter: unknown)

“Apakah Asesmen Itu?”

Ini merupakan pertanyaan awal yang harus dijawab dan sering sekali muncul yaitu “Apakah asesmen itu ?”

Di dalam kehidupan kita sehari-hari, manusia melakukan berbagai jenis kegiatan yang banyak berkaitan dengan asesmen. Hanya saja seringkali kita tidak terlalu mempehatikannya secara seksama. Seperti pada saat kita berangkat dari rumah ke tempat kerja, terjadi kegiatan asesmen yang dapat kita cermati secara jelas.

Coba, ingat berapa jarak rumah anda ke kantor? Berapa kecepatan rata-rata Anda mengendarai mobil ke kantor ? Berapa liter bensin/solar yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut ? Dalam menjawab pertanyaan tersebut kita akan menggunakan ukuran jarak meter/kilometer, ukuran liter, kilometer per jam, dan lain-lain. Nah, pada topik yang akan kita bahas dalam pelatihan ini, kita akan bermain pada arena kegiatan asesmen atau pengukuran pada perilaku manusia di tempat kerja.

Unsur Penting

Secara umum asesmen atau pengukuran dapat diartikan sebagai suatu kegiatan/proses mengidentifikasi atau mengumpulkan fakta/data/evidence kemudian membandingkan fakta tersebut terhadap suatu parameter atau ukuran tertentu dengan tujuan tertentu. Untuk mendapatkan fakta/evidence tersebut dibutuhkan suatu alat ukur/metode, dan kegiatan tersebut dilakukan oleh satu atau sekumpulan pengukur, seperti tergambar dalam skema berikut :

(terlampir)

Secara lebih detail komponen utama dari kegiatan tersebut adalah;

Parameter/ukuran.
Fakta/data/evidence dari objek yang diukur.
Teknik/metode untuk mengumpulkan fakta.
Pengukur/pelaku yang mengumpulkan evidence.
Mekanisme/prosedur pengukuran
Setelah kita miliki kelima komponen tersebut maka yang perlu diperhatikan adalah mekanisme atau prosedur bagaimana proses pengukuran tersebut dilakukan sehingga dapat diperoleh fakta yang bisa dibandingkan dengan parameternya secara objektif.

Parameter / ukuran

Adalah satuan atau besaran yang digunakan sebagai acuan dalam membandingkan fakta/data/evidence. Di dalam contoh di atas, kita telah menggunakan beberapa parameter seperti kilometer per jam, liter, kilometer. Sedangkan ukuran atau parameter yang biasa digunakan dalam kegiatan asesmen pada perilaku manusia adalah model perilaku. Banyak model yang biasa digunakan oleh praktisi di bidang ini seperti penggunaan istilah; kriteria, indikator kinerja, dimensi, kompetensi, dll. Dari berbagai jenis sebutan parameter model perilaku tersebut, istilah kompetensi yang sekarang paling sering digunakan oleh praktisi dikegiatan pengelolaan dan pengembangan sumberdaya manusia.

Fakta / evidence dari objek yang diukur

Karena dalam kegiatan asesmen ini objek ukurnya adalah manusia, maka fakta/data atau evidence yang diidentifikasi adalah hal-hal yang terkait dengan perilaku manusia atau bagian-bagian dari perilaku manusia ditempat kerja yang secara rasional dapat diamati atau diukur. Secara umum adalah berbagai karakteristik manusia seperti motif, traits/sifat, personality/kepribadian, sikap, nilai dll, serta ketrampilan dan pengetahuan yang diaktualisasikan oleh individu di dalam mereka menjalankan pekerjaannya/tindakannya, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang unggul. Dengan demikian ada berbagai jenis fakta, data, atau evidence perilaku yang dapat dikumpulkan untuk dibandingkan dengan parameter yang ditetapkan (dalam hal ini kompetensi).

Teknik / metode untuk mengumpulkan fakta

Adalah cara yang dapat dianggap paling efektif untuk mengumpulkan fakta/data/evidence perilaku yang akan dibandingkan dengan parameter/ukurannya. Dengan melihat beberapa karakteristik manusia yang perlu dikumpulkan faktanya, maka terdapat berbagai teknik atau metode pula. Teknik untuk mengumpulkan data motivasi orang, pengetahuan atau ketrampilan karyawan, atau bahkan tindakan dan kinerjanya masing-masing berbeda. Sehingga untuk mengumpulkan berbagai fakta yang komprehensif diperlukan berbagai teknik yang sesuai dengan data yang akan dikumpulkan.

Pengukur / pelaku yang mengumpulkan evidence

Adalah orang yang melakukan kegiatan atau proses pengumpulan fakta (dalam hal ini perilaku manusia) tersebut. Untuk itu si pengumpul data ini perlu memahami apa yang akan dicari atau dikumpulkan, trampil menggunakan teknik/metode yang sesuai, dan dapat melakukan analisa untuk membandingkan fakta yang diperoleh dengan parameter/ukuran yang ditetapkan. Tentu saja pelaku harus memahami prosedur dan tujuan melakukan asesmen.

Mekanisme atau Prosedur Pengukuran

Dalam setiap proses asesmen, konteks yang diukur, teknis atau cara mengukur, peran pengukur, bisa masing-masing berbeda sehingga setiap tahap proses pengukuran dapat disusun sistematika prosedur asesmen yang berbeda. Hal yang perlu dicermati adalah seberapa praktis prosedur tersebut dapat diimplementasikan. Prosedur ini sering disebut sebagai metodologi. Dalam proses asesmen, suatu teknik/metode yang baik adalah metode yang “standardized” yaitu memiliki prosedur yang dapat menjaga atau menjamin keobyektifan hasil pengukuran, yaitu valid dan reliabel. Beberapa komponen adalah: instruksi, media, cara skoring, suasana atau situasi tempat dan lain-lain.

Dengan memperhatikan ke lima komponen tersebut, bila salah satu atau bahkan lebih dari komponen tersebut tidak baik, maka hasil keseluruhan kegiatan asesmen menjadi kurang akurat. Oleh karena itu di dalam melakukan kegiatan asesmen dengan berbagai tujuan masing-masing, bila kegiatan diharapkan untuk menghasilkan pengukuran yang akurat, maka keseluruhan komponen harus diperhatikan secara seksama. Sedangkan pada konteks pengelolaan sumberdaya manusia yang berbasis kompetensi, tentunya semakin akurat kegiatan pengukuran perilaku manusia akan semakin memberikan nilai tambah atau manfaat yang signifikan bagi organisasi yang menjalankannya.

Dalam artikel selanjutnya kami akan menayangkan topik lanjutan, yang membahas faktor utama dari Asesmen, yaitu Parameter, yang kami rangkum dalam judul “Apa Yang Diukur dalam Asesmen?”. Tunggu artikel kami selanjutnya.

( Sunu Triwidada, disarikan dari berbagai sumber )

Halaman Berikutnya »